Ketika Istri Tak Ingin Membebani Suaminya
Sahabat, istri yang tak ingin membebani suami terkadang lebih memilih menahan diri dari segala keinginannya untuk memiliki, mengharapkan, atau membeli sesuatu supaya tidak menambah pikiran bagi suaminya. Apalagi jika hanya mengandalkan gaji suami untuk kebutuhan tumpah ruah rumah tangganya.
Meskipun ada sebagian suami yang memiliki gaji yang cukup besar, namun terkadang istri tak mau banyak menuntut dengan meminta dibelikan berbagai macam barang kesukaannya, baik untuk dirinya sendiri atau barang-barang untuk rumah tangga. Seperti; pernak pernik/assesoris rumah, perabot dapur, kitchen set, kendaraan, kosmetik, pakaian, dan berbagai keperluan lain menyangkut dirinya atau kebutuhan rumah pada umumnya.
Namun, disaat istri menahan semua keinginannya agar tak menjadi beban bagi suami, justru ada pihak-pihak tertentu yang dengan entengnya dan tak peka, meminta sesuatu dengan standarisasi tinggi. Contohnya saja meminta kiriman uang dengan jumlah yang besar, meminta dibelikan suatu barang dengan harga selangit, minta paketan motor baru dan lain-lain. Pada situasi seperti itu justru suami mengusahakan dengan segala cara, lari pontang-panting untuk bisa memenuhi dengan alasan tak ingin mengecewakan si ini, si itu, padahal finansial keluarga tidaklah mencukupi. Bahkan, harus berhutang atau mencari pinjaman kesana kemari, mengorbankan tabungan keluarga hanya untuk memenuhi permintaan yang bukan skala prioritas dan tidak dalam kondisi darurat.
Nah, situasi yang seperti tak menampik kemungkinan akan menimbulkan gejolak pada diri istri. Kecewa, kesal, marah, merasa tersisihkan, merasa tak dihargai, tidak diperlakukan adil oleh kerabat dari pihak suami/ istri, kawan-kawan suami, dan sebagainya. Jika hal ini berlangsung terus-menerus bukan hal yang tak mungkin jika kebahagian antara suami dan istri pun akan terganggu. Sehingga berefek pada hubungan yang tidak harmonis tentunya.
Ketika istri berusaha semaksimal mungkin untuk tidak membebani suaminya, meskipun pemenuhan sandang, pangan, papan dan berbagai keinginan lain belum bisa dikatakan sempurna, sebaliknya suami dibuat pusing dengan tuntutan pihak lain yang membebani diri suami. Mengesampingkan kebutuhan utama keluarga yang seharusnya diutamakan di atas kebutuhan lain, kecuali jika keuangan yang dimiliki oleh suami memang sangat besar dan semua kebutuhan rumah, istri dan anak-anak sudah tercukupi dengan baik tentunya.
Sahabat, terkadang kita jumpai seorang suami yang dengan susah payah mengusahakan segala permintaan atau target kerabat atau kawan pada dirinya, akan tetapi semua dilakukan atas kendali dirinya sendiri. Tanpa dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan istri.
Suami istri adalah ibarat satu trayek, tidak dibenarkan apabila suami mengambil jalur sendiri tanpa sepengetahuan istri. Hal ini pasti akan melukai perasaan sang istri. Musyawarah adalah langkah paling jitu untuk mengambil setiap keputusan dan tindakan secara bersama. Termasuk kepada siapa suami memenuhi setiap permintaan keuangan ataupun pihak teman atau kerabat yang minta dibelikan barang-barang tertentu yang nilainya mahal. Kecuali terhadap orangtua yang merupakan kewajiban mutlak yang harus dipenuhi anak terhadap orangtuanya. Itupun tentunya juga disesuaikan dengan keadaan keuangan atau kemampuan keluarga.
Sahabat, dalam sebuah rumah tangga posisi istri merupakan partner suami yang tak bisa digantikan. Sebagai partner, istri memiliki hak untuk mendapatkan fasilitas yang baik dari suami sesuai kemampuan yang ada. Jangan sampai, suami memberikan layanan materi terbaik pada pihak-pihak kerabat suami/ istri atau handai taulannya namun justru mengabaikan apa yang seharusnya didapatkan oleh istri dari suami.
Foto ilustrasi: google
Profil penulis:
Muntarsih Zakiyya Sakhie, ibu rumah tangga dengan dua orang putri, tinggal di Papua. Ingin menyapanya yuk add fb : Zakiyya Sakhie, iG : asih_zakiyya_sakhie.
Sumber: ummi-online.com
CAR,HOME,DESIGN,HEALTH,FOREX,LIFEINSURANCE,TAXES,INVESTING,BONDS,ONLINETRADING,SEO

Comments
Post a Comment